Menjadi Penulis Profesional

Oleh

Yon’s Revolta

 

 

Judul Buku                   :Harga Sebuah Impian dan Kisah-Kisah Nyata Lainnya
Judul Asli                      : Chicken Soup for the Writer’s Soul
Editor                           : Jack Canfield, Mark Victor Hansen, Bud Gardner
Penerjemah                  : Rina Buntaran
Penerbit                        : Gramedia  Pustaka Utama, 2007
Tebal                            : 201 hal.


Suatu malam, Larry Wilde, seorang komedian yang ingin menjajal profesi barunya sebagai pengarang mendekati seorang editor. Di  sebuah pesta kecil, ia memberikan draf sebuah novel, sang editor setuju untuk membacanya dan mengangkut naskah itu ke New York. Tiga minggu kemudian naskah itu dikembalikan beserta sebuah pesan” Buku yang lucu. Ditulis dengan baik. Harus diterbitkan. Sayangnya, tidak oleh kami. Semoga beruntung.”  Sebuah penolakan yang halus.

 

Beberapa minggu kemudian, sang editor meninggalkan pesan lewat telepon. “Wow ! Ia telah berubah pikiran” Larry Wilde riang. Ia pun tak membuang-buang waktu dan langsung menjawab telponnya sambil membayangkan bayaran mahal kelak yang akan diterimanya. Di telepon sang editor berkata, “Larry, novelmu memperlihatkan kepadaku bahwa kamu benar-benar tahu cara  menangani humor. Jadi kami ingin kamu menulis sebuah buku tentang lelucon Polandia dan Italia. Larry nyaris menjatuhkan gagang telepon.

 

Betapa tidak. Ia tak tahu satupun lelucon Polandia maupun Italia. Tapi kemudian tetap memutuskan untuk mencobanya.  Semangat besar ada dalam dirinya demi lahirnya sebuah buku. Ia membayar siapapun orang yang mau bercerita untuk bukunya. Setelah proses panjang dalam  pengumpulan cerita dan  berhasil ditulisnya, terbitlah buku bersisi dua, lelucon Polandia di satu sisi dan lelucon Italia disisi lain. Hebatnya, buku itu terjual sebanyak 1.600.000 eksemplar dalam tiga puluh enam cetakan.

 

Kisah Larry diatas, satu diantara 42 kisah yang ada dalam buku ini. Semuanya, bercerita tentang suka duka yang dialami para penulis. Mereka berbagi kisah dengan tuturan yang mengalir,  renyah, pelan dan menyentuh. Memberikan semangat bagi siapapun yang membacanya.  Bagi yang ingin serius berkarier didunia kepenulisan, buku ini perlu dibaca. Kita bisa belajar banyak dari mereka yang menulis dalam buku ini. Belajar untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai sebuah pekerjaan dan kita bisa hidup layak hanya dari menulis saja. Satu hal penting, kita bisa belajar tentang proses bagaimana mereka menapaki selangkah demi selangkah untuk sebuah cita dan obsesi, hingga terbitlah sebuah buku yang digemari publik (Best Seller).

 

Kita bisa membaca buku ini dari mana saja. Memang, kalau kita baca sepintas orang-orang dalam  berbagai judul tulisannya di bagian awal buku, kita mungkin tidak pernah tahu siapa mereka. Nama-nama penulis asing  dari luar negeri. Tetapi  ketika kita mau membaca satu persatu cerita yang ada didalamnya, kita akan mendapat gambaran tentang orang-orang yang gigih menjalani profesinya sebagai penulis. Nama-nama yang  berkibar sebagai penulis terkenal, produktif dan bisa hidup layak.  Kunci dari keberhasilan mereka tergambar pada pada semangat, kerja keras, disiplin dan kesabaran.

 

Ada sebuah kenikmatan tersendiri ketika kita membaca tulisan dalam buku ini. Sebuah buku yang menggugah bagi para (calon) penulis yang ingin terjun serius dan berkarier dalam dunia kepenulisan. Akhirnya, kita perlu merenungkan kata-kata  Bud Garner yang inspiratif dalam buku ini. “Ketika kamu bicara, kata-katamu hanya bergaung ke seberang ruangan atau di sepanjang koridor. Tapi ketika kamu menulis, kata-katamu bergaung sepanjang zaman”.

 

*Penulis adalah pegiat Forum Lingkar Pena (FLP) Purwokerto.

Iklan

Menulis Artikel di Koran

oleh

Yon’s Revolta

Orang boleh pandai setinggi langit, tapi
Selama tidak menulis, ia akan hilang dari sejarah.
Menulis adalah bekerja untuk keabadian

(Pramudya Ananta Toer, Novelis)

 

Menulis artikel di koran itu gampang-gampang sulit. Seseorang yang mempunyai keinginan kuat untuk mempublikasikan tulisannya di koran biasanya melalui proses yang tidak pendek. Berbagai proses dilalui untuk kemudian berhasil menembus media tertentu. Jadilah ia seorang penulis lepas. Seorang penulis lepas, ketika menulis sebuah artikel di koran, ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh;

  1. Publisitas : Anda akan bisa mempublikasikan tulisan kepada publik, artinya karya ini menjadi sebuah kontribusi  berharga dalam sepanjang sejarah bagi kehidupan penulis.
  2. Kredibilitas : Anda akan  memperoleh  kepercayaan (kredibilitas)  dari segi otoritas pengetahuan, akan mendapatkan predikat sebagai seorang intelektual atau pakar. Lebih-lebih jika fokus untuk menulis bidang tertentu
  3. Penghasilan : Anda akan mendapatkan pendapatan finansial (honor) dari artikel yang dimuat pada sebuah koran tertentu.

Nah, untuk bisa menulis artikel di koran, ada beberapa pengetahuan dasar yang perlu diperhatikan;

  1. Aktualitas : Artikel di koran biasanya memuat tulisan-tulisan yang membahas fenomena yang sedang hangat dibicarakan publik (aktual).
  2. Tema : Sebaiknya sesuai dengan latar belakang pendidikan. Ini akan memperoleh otoritas keilmiahan tertentu. Seorang sarjana kesehatan masyarakar, tentu punya otoritas yang lebih untuk menulis soal kesehatan daripada sarjana politik.
  3. Minat : Jika anda tidak suka menulis sesuai latarbelakang pendidikan, menulis saja hal-hal yang menjadi fokus perhatian dan konsistenlah dengan minat  yang menjadi perhatian tersebut.
  4. Kliping : Ini penting sebagai sarana pendukung aktualitas, semisal hasil survei, data hasil penelitian dll.  Jika teks book memiliki keunggulan sebagai basis teori dan pemikiran tokoh, maka kliping sebagai data pendukung aktualitas.
  5. Strategi : Artikel ditulis mengikuti perkembangan wacana yang ada. Jika momentum hari ibu, tepat kiranya ketika menulis soal perempuan. Atau mulailah dari media kecil ke media besar dst.

Teknik Penulisan

1.     Tentukan gagasan pokok : Terkait dengan gagasan dasar dan sikap politik terhadap sebuah masalah

2.     Membuat Sub judul : Untuk memudahkan pembaca memahami tulisan anda.

3.     Merumuskan model tulisan : Misalnya P-D-K (Pendapat-Dukungan-Kesimpulan) atau  model P-S-P (Pendapat-Sanggahan-Pendirian).

4.     Mulai menuliskan dengan freewriting, menulislah jangan pernah berhenti.

5.     Editing : Memperbaiki tatabahasa, pemilihan kata, kesesuaian kaitan antar kalimat dsb.

Teknik Pengiriman

1.     Dikirim melalui email lebih baik (murah, cepat).

2.     Dibagian awal dibuat pengantar tulisan kepada redaktur.

3.     Menyertakan nama terang, alamat jelas, telepon yang bisa dihubungi dan tak lupa nomor rekening.

4.     Tunggu sampai dua minggu.

5.     Jika belum juga dimuat, silakan kirim ke media lain.

Demikian, semoga bermanfaat.

‘’

“Kekuatan Ilmu Terletak pada Bagaimana kita berbagi”

Membangun Media Komunitas
Oleh

Sudaryono Achmad

Owner studi_media@yahoogroups.com

Pengelola penakayu.blogspot.com

 

1//

Urgensi Media Komunitas

 

Didalam sebuah organisasi (Termasuk organisasi mahasiswa) perlu adanya sebuah media komunitas. Media komunitas ini sifatnya non komersil dalam arti bukan berorientasi kepada bisnis. Walaupun begitu, tidak menutup kemungkinan mendatangkan iklan untuk memperlancar keberlangsungan produksi media. Media ini sebagai sarana untuk mensosialisasikan isu-isu yang diangkat dalam organisasi tersebut, agenda-agenda kegiatan serta melatih kemampuan anggota dalam dunia tulis menulis.

 

2//

Kebutuhan SDM

 

Untuk membangun sebuah media komunitas. Diperlukan sebuah tim untuk mengelolanya. Tim tersebut terdiri dari(a) Redaktur, bertanggungjawab dalam persoalan content media (b) Lay outer, bertanggungjawab dalam hal pengemasan dan desain media (c) produksi dan pemasaran, bertugas dalam hal distrubisi media termasuk iklan. Ketiganya mutlak harus ada ketika membangun sebuah media komunitas.

 

3//

Belajar Menilai Berita

 

Di dalam kamus besar bahasa Indonesia, berita dirumuskan sebagai laporan tentang suatu kejadian yang terbaru atau keterangan yang baru tentang sebuah peristiwa. Untuk menilai apakah sebuah peristiwa itu layak dijadikan berita atau tidak, ada rumusan model  CoHPPT yang merupakan singkatan dari, cosequencies, human interest, prominence, proximity dan timelines, keterangan lengkapnya sebagai berikut;

 

(a). Dapat membawa akibat (cosequencies) yang luas atau besar pada masyarakat. Misalnya kenaikan harga BBM, konflik sosial politik,  dsb.

 

(b). Menarik dari sudut pandang kepentingan kemanusiaan (human interest). Misalkan seseorang yang selamat dari bencana, seorang ibu yang terpaksa menarik becak untuk memenuhi nafkah keluarga karena suaminya lumpuh dsb.

 

(c). Melibatkan tokoh terkemuka, orang penting atau orang terkenal (prominence). Misal skandal video Yahya Zaini Maria Eva.

 

(d) Terjadinya dekat dengan tempat tinggal pembaca (proximity).  Jika media kampus, akan lebih menarik ketika mengangkat persoalan-persoalan yang dekat dan terjadi dikampus. Sebab, seperti lazimnya kita, akan menyukai hal-hal yang dekat dengan dunia kita.

 

(e) Terjadi tidak lama atu baru saja terjadinya. Maksudanya ada kedekatan jarak dan waktu (timelines). Disini bisa berarti pula mengusung aktualitas.

 

4//

Ketrampilan Menulis

 

Bobby Deporter dalam buku “Quatum Learning” mengatakan bahwa menulis adalah aktivitas seluruh otak yang menggunakan belahan otak kiri (rasio, logika, intelektualitas serta belahan otak kanan (emosi, seni, keindahan). Untuk itu, kita perlu menggambungkan antara keduanya. Gabungan antara kemampuan intelektualitas, wawasan dan pengetahuan diramu dengan stabilitas emosi, kegembiraan, kenyamanan, semangat, gairah serta imajinasi. Hasilnya, akan muncul tulisan yang berbotot dan punya estetika tertentu.

 

5//

Jenis-Jenis media komunitas

 

a.     Koran Dinding

b.     Majalah

c.     Buletin

 

Ketiga jenis tersebut dikelola dengan basis media cetak.

 

d.     Web Log (blog)

 

Media baru yang saat ini sedang marak sebagai sebuah media untuk mempublikasikan tulisan, gambar, photo, musik, video. Semua bisa didapatkan secara mudah dan gratis di internet. Layanan penyedianya seperti blogger.com, multiply.com, wordpress.com, blogsome.com dll.

 

End

The Magic World

 

“Kekuatan Ilmu Terletak pada bagaimana kita berbagi”

 

“Jangan pikirkan apa yang akan Anda Tulis,

 

 Tapi tulislah apa yang ada dalam pikiran Anda”

Mind Mapping

(Strategi Untuk Menulis Buku)

Oleh

Yon’s Revolta

 

Ingin bisa menulis buku ? cobalah mulai dengan Mind Mapping (peta pikiran). Mind Mapping, pertamakali dikembangkan oleh Tony Buzan pada tahun 1970 sebagai alat untuk melatih orang bisa berpikir dan berdaya guna. Temuan ini memang cukup lama, tapi sepertinya masih relevan untuk kita gunakan sebagai praktik didalam dunia perbukuan dan kepenulisan. Termasuk ketika kita akan menulis sebuah artikel atau bisa jadi sebuah buku yang utuh.

 

Mungkin, sebelum melangkah jauh, seseorang bisa dihantui dengan pikiran “Apa bisa saya menulis buku ?”. Kita kubur dalam-dalam dulu pemikiran pesimis ini, masalah sebenarnya bukan bisa atau tidak bisa, tapi kita mau atau tidak mau. Kalau ada kemauan yang besar, pasti terbuka jalan yang lebar untuk menuju kesana, percayalah !.

 

Nah, di dunia kepenulisan, mind mapping membebaskan seseorang untuk bisa merekam informasi dengan jalan mengait-ngaitkan informasi dengan gagasan yang ada dalam dirinya sehingga memunculkan kreatifitas serta gagasan baru. Strategi yang demikian menggeser pola outlining       (membuat outline) terlebih dahulu yang kurang memberikan kebebasan untuk mengaitkan informasi satu dengan lainnya.

 

Lebih jelasnya, bayangkan sebuah pohon dengan cabang-cabangnya. Pohon adalah gagasan utama kita, sedangkan cabang adalah sub-sub gagasan yang bisa kita munculkan. Tentu saja, cabang sangat terkait dengan referensi yang kita baca, pengalaman serta imajinasi. Gabungan dari beberapa point ini yang bisa menghasilkan sebuah gagasan utuh.Kelak akan berwujud menjadi sebuah artikel atau bahkan sebuah buku bisa dihasilkan.

 

Cara ini memang sederhana;

 

1.          Memulai dengan tema besar di tengah halaman (Bayangkan tema ini adalah buku atau judul besar buku yang akan kita tulis nantinya).

2.          Buat cabang-cabangnya, ini adalah sub-sub tema yang terkait dengan “pohon utama”

3.          Mulailah satu persatu cabang-cabang itu ditulis, 3-4 halaman, spasi 1,5 cukup. Kelak, kumpulan tulisan itu, misalnya telah terkumpul 25-30 tulisan, jadilah sebuah buku. Mudah bukan…!